Skip navigation

Fischer menjadi detonator bagi ide-ide baru di dunia catur. Seorang revolusioner yang revolusinya sampai sekarang masih berlangsung.

Oleh: Garry Kasparov,
Majalah Time edisi 26 Januari 2008

Sulit dilukiskan secara pasti reaksi saya saat pertama kali mendengar nama Bobby Fischer. Namun namanya sudah saya dengar saat saya masih kecil. Ketika dia mengalahkan Boris Spassky dan merebut gelar juara dunia tahun 1972, saya masih seorang pecatur ingusan berumur 9 tahun di daerah asal saya, Baku, Uni Sovyet.

080214_entkasparov_vl-vertical.jpg

Saya memang mengikuti pertandingan yang berlangsung. Koran-koran mewartakan secara besar-besaran pertandingan itu, meski belakangan semua pembaca sadar juara dunia Sovyet akhirnya kalah. Buku Fischer berjudul ”My 60 Memorable Games” adalah salah satu buku catur pertama saya. Buku ini sendiri diterjemahkan dalam bahasa Rusia tanpa mengindahkan hak penulis akan royalti.

Pada tahun 1970-an, pelatih saya, Alexander Nikitin, membuat alur untuk menyusuri kemajuan catur saya sambil membuat sejumlah target yang harus saya capai. Elo rating di atas 2.500 adalah gelar grand master, elo rating 2.600 berarti saya masuk 10 besar dunia, sedangkan elo 2.700 artinya saya akan masuk ke lingkaran juara dunia. Dan di puncak itu semua adalah Bobby Fischer, dengan elo rating tertinggi 2.785.

Saya kemudian berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1985. Tetapi visi Nikitin benar. Saya harus bekerja keras. Saya sendiri harus bermain selama empat tahun penuh untuk melewati elo rating yang dibuat Fischer.

Sikap Fischer di papan catur atau di luar permainan menunjukkan ia praktis tak memiliki lawan yang setara kuatnya.

Sebelum Fischer, tak seorang pun pecatur siap bermain mati-matian untuk setiap partai. Sebelumnya tak ada seorang pun yang mau menghabiskan waktunya di dekat jarum jam catur untuk mendorong catur ke sebuah tingkat yang sama sekali baru.

Namun Fischer melakukannya. Fischer menjadi detonator bagi ide-ide baru di dunia catur. Seorang revolusioner yang revolusinya sampai sekarang masih berlangsung.

Pada masa kejayaan Fischer, setiap turnamen ia menangkan semua. Di Pusat Klub Catur Moscow, para pemain catur top Rusia memerlukan berkumpul untuk menganalisa strategi Fischer saat mengalahkan pecatur top Rusia, Mark Taimanov.

Seseorang grand master memperkirakan semestinya Taimanov menang karena ia memiliki kekuatan di pergerakan ratu. Namun David Bronstein, seorang penantang juara dunia tahun 1951, membantahnya: “Ah, kita tidak tahu persis apa yang akan Fischer lakukan.”

Tak lama kemudian, lembaga olahraga Sovyet memanggil Taimanov dan para master catur lain untuk mendiskusikan ketidakmampuan Taimanov mengalahkan pecatur Amerika. Bagaimana ia bisa gagal? Apakah ia tak tahu dia seorang pecatur yang dipilih mewakili negara? Boris Spassky akhirnya angkat bicara: “Saat kita semua kalah dari Fischer, apakah kita juga akan menginterogasi Fischer kenapa dia bisa terus-menerus menang?”

Setelah Perang Dunia ke-II, Amerika tidak memiliki tradisi catur yang kuat. Di sana tradisi catur amat lemah, terbatas pada beberapa sekolah yang mendidik bakat-bakat muda. Sehingga bagi seorang pecatur Amerika, untuk mencapai level kejuaraan dunia di tahun 1950-an menunjukkan sebuah dedikasi pribadi yang luar biasa.

Kebangkitan Fischer mengatasi mesin catur Sovyet, yang berpuncak pada kemenangan Fischer atas Spassky di Reykjavic, Islandia, tahun 1972, tentunya membutuhkan upaya luar biasa besar.

Fischer sendiri memutuskan melepas gelar juara dunia caturnya tahun 1975. Pengunduran dirinya di masa lalu itu telah mempermalukan Uni Sovyet, yang saat itu diwakili oleh sosok Anatoly Karpov.

Akibat tindakan itu, Fischer mengalami isolasi dan kemurkaan. Fischer tak pernah bermain lagi hingga tahun 1992 saat mengalahkan kembali Spassky dalam pertandingan ulang yang diadakan secara rahasia. Setelah itu ia makin jarang bermain di depan publik.

Seperti telah mendapat restu dewa catur di pegunungan Olympus, ia tak lagi menemukan sebuah tujuan baru untuk melampiaskan kekuatan dan gairahnya pada catur.

Saya sering ditanya apakah saya pernah mendapat kesempatan bermain dengan Bobby Fischer. Jawabannya adalah tidak. Saya memang tidak pernah mendapat kesempatan itu.

Namun, meski ia kerap memandang saya sebagai bagian dari komplotan iblis kemapanan catur (FIDE) yang telah merampok gelarnya dan mencurangi dia, saya harus meminta maaf karena tak pernah punya kesempatan untuk menyampaikan ucapan terimakasih atas sumbangan pribadinya bagi olahraga catur.

Belakangan, banyak penulis mempersoalkan melenyapnya Fischer dan mentalnya yang labil. Beberapa menyalahkan dia atas keputusannya menolak mempertahankan gelar juara dunianya, dengan menyebutnya sebagai sebuah tindakan blunder yang bodoh. Penekanan terlalu kuat terhadap orang yang pernah berada di puncak, selalu mengundang resiko.

Saya sendiri lebih suka mengenang sumbangan dan pencapaian globalnya ketimbang menelisik tragedi kehidupan pribadinya. Adalah sebuah keadilan bahwa Fischer menghabiskan hari-hari terakhir kehidupannya di Islandia, tempat bersejarah yang membuatnya menjadi pecatur terbesar dunia. Di sana ia akan selalu mengenang dan mencintai jalan terbaik yang pernah ia pilih: menjadi seorang pemain catur…

Gary Kasparov adalah penulis buku “How Life Imitates Chess,” peringkat pertama catur sejak tahun 1985 sampai mengundurkan diri tahun 2005.

Lihat juga:

Wafatnya Bobby Fischer

Mengenang Duel Fischer-Spassky

Berakhirnya Era Dominasi Catur Rusia

Penis Terbang Teror Gary Kasparov

Catur sebagai Perang

***

One Comment

  1. permainan catur ternyata banyak filosipinya, tapi susah banget yach cara betrmainnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: