Skip navigation

Kampung Jakarta punya andil di balik “keberanian harapan” seorang Obama.

JUM’AT, 16 JANUARI 2009, 20:40 WIB

Edy Haryadi, Rika Panda Pardede, Harriska Farida Adiati, Bayu Galih

VIVAnews – Mata tua Israela Pareira menerawang. Di tengah hujan Jakarta, perempuan berusia 65 tahun itu mencoba keras mengembalikan kenangannya pada sebuah adegan di dalam kelas, puluhan tahun silam.

***

Suatu hari di bulan Mei 1970. Di ruang kelas tiga SD Santo Fransiskus Asisi, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, tengah berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh guru kelas, setiap murid ditugasi membuat tulisan singkat bertema “Cita-citaku.”

Setelah dikumpulkan dan diperiksa satu-persatu, sang guru terkejut. Sementara rata-rata murid menulis ingin jadi pilot, insinyur, atau dokter, satu orang tanpa ragu menulis: jadi presiden!

Tak pelak murid itu jadi pembicaraan di antara guru. “Nama anak itu Barry Soetoro,” Israela mengenang.

Israela, wanita berdarah Flores, adalah guru di SD Asisi itu. Dan Barry Soetoro tak lain adalah Barack Obama, presiden terpilih Amerika Serikat yang kemenangan fenomenalnya dipuja-puji telah membuka harapan baru bagi dunia.

Selama tiga tahun Barry bersekolah di SD Fransiskus Asisi. Seingat Israela, bocah Amerika ini masuk SD Asisi tahun 1968, saat sekolah itu baru berdiri satu tahun. Di tahun 1971, dia lalu pindah ke SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat, saat adik tirinya, Maya Soetoro, lahir. Setelah itu dia kembali ke Hawaii, Amerika Serikat.

Pada masa itu SD Asisi belum seperti sekarang. Lapangan dan lantai sekolah masih berupa tanah merah. Murid-murid tak berseragam dan banyak yang hanya mengenakan sandal. Karena jumlah kelas terbatas, sekolah hanya berlangsung dua jam tiap hari, mulai pukul 07.30 hingga 09.30.

Tiap pagi, dari rumahnya di sebuah gang sempit di Jalan Kyai Haji Ramli No. 16 RT 11 RW 15, Menteng Dalam, Barry berjalan kaki menuju sekolah. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tak sampai 50 meter.

Dia selalu berangkat sekolah diantar ibu kandungnya, Ann Dunham, wanita kelahiran Wichita, Texas, Amerika Serikat. Berbeda dengan ibunya yang seputih susu, kulit Barry hitam gelap. Maklum, ayah Barry berasal dari Kenya.

Ke sekolah, kenang Israela, dandanan Barry selalu rapi. Kemeja putih tangan pendek dan celana pendek di bawah dengkul menjadi ciri khasnya. Dia juga selalu membawa bekal: setakup roti bermentega ditaburi mesies.

Saat masuk sekolah, Barry berumur tujuh tahun. Dia lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Seingat Israela, yang mendaftarkan Barry sekolah adalah Lolo Soetoro, ayah tirinya. Karena Lolo seorang muslim, sesuai kebiasaan di mana agama anak dicatat mengikuti ayah, maka di buku induk sekolah ketika itu Barry tercatat beragama Islam.

Ann Dunham bercerai dengan ayah kandung Barry, Barack Obama Sr., saat anak mereka berumur dua tahun. Ann lalu menikah lagi dengan Lolo, yang saat itu kuliah di Universitas Hawaii. Mereka lalu pindah ke Jakarta saat Soeharto yang baru naik ke panggung kekuasaan Republik menarik pulang mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri.

***

Barry memang sudah “aneh” sedari kecil. Tak hanya bercita-cita sebagai presiden, menurut bekas pengasuhnya, Liah, 51 tahun, bocah ini pun suka berpidato. Salah satu tokoh yang kerap ia tiru pidatonya adalah Soeharto. “Sampai bisa,” kata Liah yang biasa disapa Mbak Non itu.

Bila berpidato, Barry selalu menghadap ibu dan ayah tirinya. Liah diminta berdiri tegak di belakang Barry, seperti lagaknya seorang ajudan. Semua harus diam, tak boleh berisik. Jika Liah menggaruk kakinya karena gatal, Barry akan mengulang pidato, sampai menurutnya semua berjalan sempurna.

Hal lain yang diingat Liah, Barry bukan tipe bocah yang gampang ngambek. Oleh anak-anak di pemukiman padat penduduk itu, Barry kerap diejek dengan sebutan “negro”. Toh, ia menanggapinya dengan tertawa-tawa saja.

Yunaldi Askiar, 46 tahun, mengamini tabiat teman kecilnya di SD Asisi ini. Sepulang dari sekolah, Barry sering bermain di rumah Yunaldi. Kebetulan mereka bertetangga. Rumah Barry bernomor 16, sedangkan Yunaldi 18.

Sembari tertawa, Yunaldi mengakui dulu dia dan teman-temannya yang lain memang sering meledek Barry “negro.” Menanggapinya, Barry hanya tertawa-tawa. Ia paling balas mengejek dalam bahasa Inggris—yang tak dipahami Yunaldi dan teman-temannya. Atau, sesekali dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Salah satu ejekan balasan favoritnya adalah ini: “Kampung!”

Ketika itu, kata Yunaldi bernostalgia, Barry sering mereka ajak berenang di empang belakang SD Asisi. Supaya tak ketahuan ibunya, sebelum pulang Barry biasanya numpang mandi dulu di rumah Yunaldi.

Di antara mereka, Barry kecil dikenal paling pintar bicara. Bermodalkan bahasa gado-gado ia selalu ngotot mendebat teman-temannya dalam segala hal. Yunaldi dan teman-temannya mengaku selalu kalah dalam urusan satu ini—boleh jadi, itu juga karena mereka tak paham maksudnya saat Barry menyerocos dalam bahasa Inggris. “Kalau kita kalah ngomong, dia kita jitakin,” kata Edi Kusnaedi, 47 tahun, teman kecilnya yang lain.

***

Kurun waktu empat tahun (1967-1971) yang dilalui Barry di Indonesia rupanya membekas lebih dalam. Berlarian di lapangan tanah dan berenang di empang berlumpur tak sekadar meninggalkan masa kecil yang indah dikenang. Itu juga ternyata membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Dalam bukunya yang terkenal, the Audacity of Hope (Keberanian Harapan), Presiden Obama menulis: “Sebagian besar dari rasa hormat saya terhadap Bill of Rights justru lahir dari pengalaman masa kecil saya di Indonesia dan juga karena saya memiliki keluarga di Kenya–negara-negara di mana hak-hak individu nyaris semata-mata bergantung pada kehendak para jenderal militer dan pada hasrat kaum birokrat yang korup.”

Tiga puluh delapan tahun telah berlalu sejak Barry Soetoro menulis “presiden” sebagai cita-citanya di SD Asisi, Jakarta. Pada 20 Januari 2009, di tangga barat di halaman Gedung Capitol Hill, Washington, D.C., mimpi nan gagah berani itu pun terwujud: Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44.

sumber:  VIVAnews

Baca Juga:

John Mccain Tantang Obama Bermain Catur

Barack Obama Menang

Garry Kasparov: Manusia Catur

V. Anand: Pertahanan India

Wafatnya Bobby Fischer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: