Skip navigation

Pada hari Rabu, 13 Oktober 2010, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk mengabulkan permohonan uji materi atas UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya dapat Mengganggu Ketertiban Umum, terhadap UUD 1945. Permohonan itu diajukan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) serta sejumlah pemohon lain.

Dengan mengabulkan gugatan pemohon, Mahkamah Konstitusi telah membuat kejaksaan tak memiliki lagi taji dan wewenang untuk melarang penerbitan buku.

Sementara, selama hampir setengah abad, rezim-rezim yang memerintah negeri ini menggunakan UU No 4/PNPS/1963 tersebut sebagai dasar hukum untuk memberangus kebebasan berekpresi warga. Dalam kurun waktu tersebut lebih dari dua ribu judul buku yang diproduksi dengan tujuan menyampaikan informasi, hasil-hasil studi, pendapat, cita-cita, dan refleksi, dilarang dan dibakar oleh penguasa.

Untuk merayakan pencabutan pelarangan buku tersebut, Penerbit Arung Aksara menerbitkan kembali buku yang pada tahun 2001 masuk ke dalam daftar buku-buku yang dibakar oleh Aliansi Anti Komunis. Buku itu akan selesai dicetak Jumat, 3 Desember 2010.

Buku ini tidak dijual di toko buku. Melainkan dari tangan ke tangan, atau melalui kiriman paket. Sebab jika lewat toko buku harganya bisa naik dua kali lipat. Alasan lainnya, buku ini adalah seri limited edition, dicetak terbatas. Hanya 200 eks, dan sekarang, Minggu 12 Desember 2010, stok buku ini hanya tinggal 60 eks!!! Siapa cepat dia dapat!!!!

Ada pun spesifikasi buku tersebut:

Judul Buku: Melenyapnya Negara, Perspektif Lenin

Penulis: Edy Haryadi

Kata Pengantar: Budiman Sudjatmiko

Harga buku: Rp 25.000/eksemplar

Ongkos kirim: Rp 10.000 (khusus luar Jakarta)

Pengiriman ke BCA Edy Haryadi No. Rek. 5025038956

Dalam kota Jakarta : Cash On Delivery (bayar setelah buku diterima)

Stok buku: Hanya 200 eksemplar!

Buku akan terbit hari Jumat, 3 Desember 2010

Alamat surat: penerbit.arung.aksara@gmail.com

HP penerbit: 0813 10 274 674

*****

Resensi Buku
NEGARA DALAM PANDANGAN LENIN

KOMPAS, Minggu, 05-11-2000. Halaman: 5

Judul : Melenyapnya Negara, Perspektif Lenin

Penulis : Edy Haryadi

Kata Pengantar: Budiman Sudjatmiko

Penerbit : Komunitas Studi untuk Perubahan

Edisi : September 2000

Tebal : (xxi + 153) halaman

EFORIA wacana kiri nampaknya sedang melanda khasanah penerbitan buku di Indonesia. Hadirnya buku Pemikiran Karl Marx yang ditulis oleh Frans Magnis-Suseno pada pertengahan tahun 1999, seakan menjadi pembuka bagi kemunculan buku-buku yang banyak mengupas pemikiran dari tokoh-tokoh kiri. Sebut saja seperti buku Madilog karya Tan Malaka, Che Guevara Sang Revolusioner, dan Zaman Bergerak yang mengupas sosok dan pemikiran Semaun tokoh PKI, dan masih banyak lagi yang lain.

Membongkar wacana kiri, rasanya belum lengkap kalau tidak menghadirkan tokoh yang satu ini. Dialah seorang revolusioner yang dilahirkan pada tanggal 10 April 1870 di kota Simbrisk, bernama Vladimir Ilyich Lenin. Buku tentang Lenin yang ditulis oleh Edy Haryadi ini, mencoba menghadirkan sosok dan pemikiran tokoh revolusi Rusia itu, terutama teori negara yang pernah menjadi cikal bakal berdirinya negara Uni Sovyet.

***

TEORI Negara yang dikemukakan Lenin berdasarkan teori Marxis yang intinya bahwa negara adalah alat dari sebuah kelas yang berkuasa. Karena itu, menurut Marx, negara bukanlah lembaga di atas masyarakat yang mengatur masyarakat tanpa pamrih, melainkan alat dalam tangan kelas-kelas atas, untuk mengamankan kekuasaan mereka.

Jadi negara pertama-tama tidak bertindak demi kepentingan umum, melainkan demi kepentingan kelas-kelas atas (F.M. Suseno, 199: 120). Dengan dasar-dasar inilah kemudian Lenin dalam level praktis merumuskan teori Marxis ketika terjadi perdebatan dengan kaum anarkis dan kaum sosialis reformis yang dituangkan dalam buku berjudul Negara dan Revolusi.

Buku yang ditulis Lenin bulan Agustus-September 1917 memuat secara khusus soal “melenyapkan negara.” Keberadaan buku ini setidaknya bisa digunakan dalam dua hal. Pertama, sebagai kritik keluar (terhadap teori-teori borjuis) yang mengatakan bahwa “adanya negara adalah untuk mendamaikan kelas-kelas”. Kedua sebagai kritik ke dalam, atau ditujukan untuk “memurnikan” teori negara Marxis terhadap unsur-unsur disintepretasi, baik dari para revisionis, maupun yang anarkis seperti Kautsky dan Proudhon (hal 116-117).

Hal itulah yang kemudian membedakan Lenin dengan teoritisi Marxis lainnya setelah Marx meninggal. Pemurnian kembali teori Marxis bagi Lenin mempunyai arti penting, karena dia percaya: Tanpa teori revolusioner tidak mungkin ada gerakan revolusioner.

Pandangan Marxis yang menyatakan bahwa sejarah dari dulu hingga sekarang selalu ditandai oleh pertentangan antarkelas menjadi dasar utama dalam teori negara yang dikemukakan Lenin. Hal ini dikatakannya dalam pidato di depan Kongres III Liga Komunis yang dihadiri oleh 600 orang delegasi pada tanggal 2 Oktober 1920.

Saat itu Lenin berkata bahwa masyarakat lama dibangun berdasar prinsip merampok atau dirampok, bekerja pada orang lain atau membuat orang lain bekerja padamu, menjadi pemilik budak atau seorang budak. Menurut Lenin, kondisi seperti itulah yang merendahkan umat manusia, dan perlu ada perjuangan untuk meninggikan martabat manusia, yaitu melalui revolusi.

Maka dari itu, Lenin menambahkan bahwa revolusi adalah festival dari kaum tertindas dan terhisap. Tidak akan pernah massa rakyat sanggup tampil ke depan dan berperan aktif sebagai pencipta sistem sosial baru, kecuali pada waktu revolusi (hal 122).

Dengan revolusi inilah kaum proletar akan merebut kekuasaan negara dan mendirikan pemerintahan diktaktur proletariat. Artinya dengan menggunakan kekuasaan negara, kaum proletar akan menindas kaum kapitalis agar mereka jangan sampai menggunakan kekayaan dan fasilitas yang dimilikinya untuk menggagalkan revolusi proletariat dan mengembalikan keadaan lama (F.M. Suseno 1999: 169)

Jadi kediktaktoran proletariat perlu untuk mencegah segala kemungkinan sebuah revolusi balasan dari sisa-sisa kaum kapitalis. Dengan demikian hak milik atas tanah dan pabrik-pabrik serta alat-alat produksi lainnya menjadi milik negara.

Tujuan yang diharapkan adalah hilangnya perbedaan kelas dalam masyarakat dan dengan sendirinya kediktaktoran proletariat juga hilang karena tidak ada kelas-kelas yang perlu diawasi dan ditindas lagi. Dengan hilangnya kelas-kelas dalam masyarakat, negara menjadi kehilangan relevansinya. Negara kemudian “melenyap” (hal 26).

Dalam pandangan Marx, melenyapnya negara berkaitan erat dengan tahap-tahap dalam ekonomi. Tahap pertama adalah masyarakat sosialis di mana “setiap orang memiliki hak yang sama atas hasil kerja yang sama.” Tahap berikutnya adalah masyarakat komunis yaitu ketika perlawanan kaum kapitalis sudah lenyap karena tidak ada lagi kelas-kelas, barulah negara melenyap. Oleh karena itu untuk melenyapkan sama sekali negara, dibutuhkan komunisme yang penuh (hal 133).

***

KEBESARAN nama Uni Sovyet dalam percaturan politik dunia, tidak akan lepas dari nama Lenin. Kelahiran Uni Republik Sosialis Sovyet (URRS) yang merupakan usulan Lenin pada bulan Desember 1922, adalah hasil revolusi rakyat Rusia pada tahun 1917 yang berhasil menggulingkan Tsar serta menghancurkan feodalisme dan kekuasaan aristokrasi. Revolusi itu tergolong lambat dibandingkan dengan revolusi yang terjadi di Inggris dan Perancis (hal 46).

Awal keterlibatan Lenin dalam memperjuangkan nasib kelas buruh dimulai setelah ia dikeluarkan dari Universitas Kazan. Pada tahun 1893, Lenin pergi ke St Petersbrug, dan pada tahun 1895 ia mendirikan ‘Liga Pembebasan Kelas Buruh (LPKB)’ yang memiliki arti penting bagi perjuangan kelas buruh.

Akibat dari aktivitasnya, Lenin dan para pemimpin LPKB ditangkap oleh pemerintah Tsar tahun 1895. Walaupun hidup dalam penjara, Lenin tetap melakukan kerja-kerja revolusionernya; ia menulis sebuah pamflet yang berjudul Mogok (On Strike) dan leaflet yang berjudul Pada Pemerintah Tsar yang isinya membeberkan penindasan penguasa (hal 53).

Pada tahun 1894 melalui bukunya yang berjudul What the Friend the People are dan How They Fight the Social Democrat, Lenin mengajukan gagasan bahwa kelas buruh dan kaum tani adalah dua kekuatan besar yang sanggup menggulingkan kekuatan Tsar. Gagasan ini kemudian diwujudkan dengan dibentuknya Partai Marxis Rusia yang mempunyai program nasionalisasi tanah dan membentuk diktaktur proletariat.

Partai itu mengalami perkembangan yang begitu pesat, dan pada saat diadakannya kongres kedua PBSDR tanggal 17 Juli 1903 di London, mayoritas peserta kongres menerima usulan program-program dari Lenin. Sejak itulah Lenin dan para pengikutnya disebut kaum Bolshevik (kaum Mayoritas) dan saingan mereka disebut kaum Menshevik (kaum minoritas).

Pertentangan antara dua kubu ini terus berlangsung setelah berakhirnya kongres. Dan melalui bukunya yang berjudul One Step Forward, Two Steps back, Lenin menelanjangi pandangan-pandangan kaum Menshevik. Buku yang dipublikasikan pada bulan Mei 1904, menjelaskan prinsip-prinsip organisasi yang bisa membantu atau memandu PBSDR (hal 62).

Keberhasilan Revolusi Oktober 1917 merupakan bukti bahwa taktik ala pabrik model Lenin-lah yang berhasil membawa Bolshevik mencapai kemenangan untuk menggulingkan Pemerintahan Sementara. Yang dilakukan Lenin ketika berhasil merebut kekuasaan pertama-tama adalah mengganti aparatur serta jaringan orang-orang yang loyal pada Tsar sebagai agen eksekutif untuk tugas pemerintahan (hal 77).

Tantangan yang harus dihadapi oleh Lenin selain berasal dari kekuatan luar (Jerman) juga berasal dari dalam sendiri (pendukung Tsar dan unsur Pemerintahan Sementara) yang didukung oleh Inggris, Perancis, Jepang, dan Amerika. Mereka ingin menggulingkan kekuasaan Sovyet Rusia dan menghidupkan kembali sistem borjuis (hal 79).

Pada masa itulah kondisi ekonomi di Sovyet mengalami krisis yang hebat. Banyak terjadi kekurangan daging dan roti serta kelaparan yang melanda kaum buruh dan pabrik-pabrik berhenti berproduksi karena kekurangan bahan baku dan bahan bakar. Dengan semboyan “Semuanya untuk front!” serta dengan menerapkan kebijakan “Komunisme Perang.” Lenin dapat mempertahankan pemerintahan Sovyet dari jurang kehancuran (hal 80).

Kesungguhan Lenin dalam membangun Sovyet patut dijadikan teladan. Kehidupannya yang susah di zaman Tsar, pekerjaan yang sangat berat dalam bidang teori maupun praktek dan akibat lukanya karena percobaan pembunuhan, menyebabkan kondisi yang buruk bagi Lenin. Pada tanggal 21 Januari 1924 jam 06.50 pagi, seluruh rakyat pekerja Rusia bersedih karena sang Revolusioner itu meninggal. Lenin mengalami pembekuan urat-urat otak yang mencapai tingkat pengapuran karena penggunaan tenaga jauh melewati batas. Semua dokter yang menghadiri pemeriksaan mayat Lenin sangat heran ketika melihat otaknya (hal 45).

(Akhmad Fauzie, staf Eros: Psychology and Social Change Studies)

sumber: http://penerbitarungaksara.wordpress.com/2010/11/25/stop-press-cetak-ulang-karya-lenin/

*****

Di tengah situasi ekonomi-politik yang muram akibat imperialisme dan kebijakan neo-liberal, Kedai Kopi Nusantara menggeluarkan gebrakan baru.

Kedai kopi yang khusus hanya menjual kopi dan teh produk asli Indonesia ini, mengundang pecatur Percasi, Pantang Sana, yang memiliki elo rating 2070, untuk melakukan pertandingan eksibisi. Tempat dan waktunya sudah dipilih secara seksama.

Tempatnya adalah di Kedai Teh dan Kopi Nusantara. Kedai ini terletak di Jalan Abdullah Syafe’i Nomer 51, Casablanca, Tebet, Jakarta Selatan. Sedang waktu yang dipilih adalah hari Sabtu, 4 Desember 2010, jam 19.00-selesai.

Pantang rencananya akan melawan tiga pecatur secara simultan. Kebetulan ketiga lawannya adalah bekas aktivis penumbang Soeharto tahun 1998.

Menurut AJ Susmana, manajer Kedai Kopi Nusantara, persoalannya, eksibisi ini akan menguji apakah taktik dan strategi penggulingan Soeharto masih relevan saat  hal itu diurai di papan kotak hitam-putih yang berjumlah 64 itu.

“Atau, apakah, taktik dan strategi itu kini hanya tinggal kenangan. Seperti kapak perunggu di musium purbakala,” tandas Susmana. (EH)

Koalisi Cinta 100 % Indonesia

——————————————————————————————————-

KKomunitas Kretek, Komunitas Jamu Indonesia, Aliansi Pencinta Batik, Srikandi Indonesia, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia,


———————————————————————————-

Cabut Pergub DKI No 88/2010,

Lawan Skenario Intervensi Korporasi Farmasi Asing

Negara seharusnya bersikap netral. Salah satunya dengan cara memperlakukan setiap warga negara secara adil tanpa diskriminasi[1]. Tapi, faktanya tidak demikian. Bukan sekali-dua, negara menjadi alat perpanjangan tangan kepentingan modal asing. Ironisnya, ini terjadi berulang kali dalam sejarah republik ini berdiri, terutama sejak Soeharto berkuasa.

Lucunya lagi, tragedi itu kembali terulang pada masa reformasi. Salah satunya ditunjukkan secara telanjang oleh Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No 88 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur No 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Dalam peraturan baru ini, hak perokok di Jakarta semakin dipersempit. Tempat-tempat khusus merokok yang semula ada di tempat kerja dan tempat umum seperti mal, hotel, dan restoran seperti diamanatkan peraturan yang lebih tinggi, ditiadakan.[2] Seperti pesakitan, para perokok diusir dari dalam gedung.[3]

Tidak cukup sampai di sini, mulai tanggal 1 November 2010 ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kabarnya akan mulai melakukan sweeping di tempat-tempat umum. Sebuah gerakan yang mengingatkan kita pada Adolf Hitler tahun 1945. Sebab, gerakan sweeping rokok, sejatinya memang pernah dicontohkan oleh Partai Nazi di Jerman sebagai pelopor fasisme.[4]

Bagi kami, kebijakan Pergub DKI No 88/2010 ini mengherankan. Ketika Jakarta masih dilanda kemacetan dan teror banjir seperti yang kita rasakan akhir-akhir ini, Gubernur Fauzi Bowo yang sering mengklaim dirinya sebagai “ahlinya Jakarta” justru lebih memprioritaskan penghapusan ruang merokok di seluruh gedung pemerintah, mal, restoran dan cafe sebagai program utama.

Sebelumnya, sebagai pencinta produk asli Indonesia, terutama rokok kretek, kami memang memilih diam. Tapi, kami belajar dari kebijaksanaan waktu: bahwa yang busuk akhirnya akan terbongkar.  Dan skandal intervensi korporasi farmasi asing itu akhirnya mencuat.

Skandal itu mulai terkuak sejak Muhammadiyah mengeluarkan fatwa merokok  haram bulan Maret 2010 lalu. Karena pada saat bersamaan diketahui adanya aliran dana sebesar 393,234 dolar U$ atau Rp 3,5 miliar ke Muhammadiyah dalam rangka mengeluarkan fatwa haram rokok. Dana itu berasal dari Michael R. Bloomberg, pengusaha Yahudi yang kini menjabat sebagai Wali Kota New York, melalui Bloomberg Initiative.[5]

Bloomberg Initiative itu juga menggelontorkan puluhan miliaran rupiah ke berbagai LSM dan instansi pemerintahan yaitu:

1)    Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bogor sebesar US$ 228,224 atau sekitar Rp 2 Miliar

2)    Lembaga Demografi UI, sebesar US$ 280,755 atau sekitar Rp 2,5 Miliar dan US$ 40,654 atau sekitar Rp 3,6 Miliar

3)    Dirjen pengendalian penyakit tidak menular Depkes sebesar US$ 529,819 atau sekitar Rp 4,7 Miliar

4)    Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Tobacco Control Working Group, sebesar US$ 491,569 atau sekitar Rp 4,4 Miliar

5)    Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebesar US$ 455,911 atau sekitar Rp 4,1 Miliar dan US$ 210, 974 atau sekitar Rp 1,8 Miliar

6)    Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IPHA) sebesar US$ 12,800 atau sekitar Rp 1,1 Miliar

7)    Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Pusat Studi Agama dan Masyarakat, sebesar US $ 454.480 atau sekitar Rp 4 Miliar.

(lebih lengkap lihat lampiran)

Dan bukan kebetulan, tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi itu berdiri di garda depan untuk melakukan lobi dan kampanye anti rokok.

Salah satu produknya adalah Pergub DKI N0 88/2010 yang dikeluarkan bulan April 2010. LSM rekanan Pemprov DKI dalam kampanye anti rokok adalah Swisscontact Indonesia Foundation (SIF).[6]

Melalui organisasi “Smoke Free Jakarta” yang berkantor di Kantor Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Swisscontact Indonesia bermitra dengan Pemprov DKI. Menurut laporan Bloomberg Initiative, Swisscontact Indonesia adalah penerima bantuan sebesar US$ 360.952 atau sekitar Rp 3,2 miliar untuk program membebaskan Jakarta dari asap rokok melalui pembuatan peraturan.[7]

Persoalannya, Michael R. Bloomberg, bukan tak memiliki kepentingan. Benar, dua tahun lalu dia bersama Bill Gates melancarkan kampanye dan pengumpulan dana bersama untuk gerakan anti rokok sebesar US$ 375 Juta. Bloomberg menyumbang US$ 250 Juta. Jumlah yang fantastis. Mengingat bahwa Bill Gates sebagai orang terkaya dunia saja hanya menyumbang US$ 125 Juta.[8]

Sekilas, terkesan Bloomberg tak memiliki kepentingan apa-apa terhadap isu perang anti rokok. Tapi fakta itu menipu. Bloomberg nyatanya memiliki hubungan khusus dengan industri farmasi.[9]

Teman dekat sekaligus penasehatnya, William R. Brody, adalah salah satu Direktur Novartis, perusahaan farmasi nomer empat terbesar dunia dengan pasar penjualan senilai 125 miliar dollar U$.[10] Tak mengherankan, Michael Bloomberg selalu tutup mata dengan ulah dan lobi MNC farmasi.[11] Bahkan, patut diduga Bloomberg Intiative adalah alat terselubung untuk memobilisasi dana korporasi farmasi asing untuk melakukan kampanye anti rokok dalam skala gigantik.

Bagaimana dengan Bill Gates? Jawabannya sama saja. Istrinya, Melinda Gates, sejak tahun 2005, membeli saham drugstore.com, sebuah perusahaan farmasi online. Pada kuartal pertama tahun 2005, perusahaan farmasi online ini berhasil menjual produk farmasi dengan nilai US$ 99,6 Juta.[12]

Maka, jelas, di belakang Pergub DKI No 88/2010 itu ada skenario intervensi korporasi farmasi asing. Target skenario global korporasi farmasi asing itu jelas agar orang berhenti merokok. Dan untuk berhenti merokok itu harus ada penanganan atas ketagihan nikotin. Dari situlah terbuka jalan lapang bagi pemasaran terapi atau obat-obatan yang dikenal sebagai Nicotine Replacement Therapy (NRT) yang sudah mereka ciptakan sejak tahun 1991. Bentuk  NRT adalah koyo, permen, inhaler dan obat.[13]

Indonesia, dengan jumlah perokok cukup tinggi, jelas merupakan pasar ideal bagi korporasi farmasi asing yang membuat dan memasarkan NRT.

Perselingkuhan gerakan anti rokok dan korporasi perusahaan farmasi asing ini memang mulai menemukan momentum pada tahun 1991. Hal itu bermula saat pemerintah Amerika Serikat meluluskan NRT bernama Nicotrol yang diproduksi Pfizer pada tahun 1980 dan dipasarkan oleh Jhonson and Jhonson (J & J), sebagai terapi berhenti merokok.

Pendiri Jhonson & Jhonson adalah Jenderal Robert Jhonson. Ia meninggal tahun 1968 dengan meninggalkan warisan sebesar 1,2 miliar dolar U$ untuk digunakan mendirikan Robert Wood Jhonson Foundation. Hingga hari ini yayasan ini memiliki 40 Juta lembar saham di J & J dengan nilai lebih dari US$ 3 Miliar.

Maka, seperti kata pepatah, apa yang baik bagi Jhonson & Jhonson, baik pula bagi Robert Wood Jhonson Foundation. Khususnya untuk memasarkan temuan terapi rokok ke pasar.Ini dilakukan dengan tiga cara, mempeluas daerah larangan merokok, menaikkan pajak rokok, dan pada akhirnya memusnahkan pabrik-pabrik rokok.

Sejak tahun 1991, Robert Wood Jhonson Foundation telah mengucurkan US$ 450 Juta, untuk proyek anti rokok, di antaranya US$ 10 Juta untuk kampanye menaikkan harga cukai rokok dan US$ 99 Juta dalam rangka melobi kebijakan negara untuk memperluas kawasan bebas merokok. Salah satu LSM yang menerima kucuran dana ini adalah Tobacco-Free Kids yang turut aktif menggalang gerakan anti-rokok di Indonesia.[14]

Pemain korporasi farmasi asing lain yang mengembangkan terapi dan obat subtitusi rokok di antaranya adalah Pfizer, Novartis dan GlaxoSmithKline. Pfizer adalah produsen farmasi terbesar kedua dunia dengan omset 145  miliar dollar U$/tahun. Novartis adalah produsen farmasi terbesar keempat dengan omzet US$ 125 miliar/tahun. GlaxosmithKline adalah produsen nomer enam terbesar dunia dengan omzet US$ 94 miliar/tahun. [15]

Pada akhir tahun 1990, Pfizer dan Glaxo membiayai secara penuh anggota WHO untuk membentuk World Health Organisation’s Tobacco Free Initiative. Pada saat konferensi ke 11 World Conference on Tobacco di Chicago tahun 2000, Yayasan Jhonson memberi US$ 4 Juta dan Glaxo ikut berperan sebagai partner.  Pfizer sendiri mengucurkan dana US$ 33 Juta untuk membentuk organisasi anti-rokok.

Hasil kampanye anti rokok secara besar-besaran ini kemudian berimplikasi penting pada produk terapi dan obat berhenti merokok yang mereka buat.  Pada tahun 1999, Nicorette produksi GlaxoSmithKline terjual US$ 570 Juta/tahun. Tahun 2007, Chatix produk Pfizer terjual US$ 883 Juta.[16]

Dengan demikian, bisa disimpulkan, Pergub DKI No 88/2010 yang berbau fasisme dan diksriminatif ini merupakan bagian dari skenario pemasaran industri farmasi asing khususnya untuk produk NRT.

Selain hak perokok bakal tergilas, niscaya, cepat atau lambat, rokok kretek, yang mempekerjakan jutaan petani tembakau akan rontok. Padahal, rokok kretek seperti halnya batik, dan jamu, merupakan produk asli Indonesia.  Karena itu kami secara tegas menolak skenario kebijakan kepentingan korporasi farmasi asing  yang akan membuat  warisan budaya asli bangsa Indonesia luluh-lantak.

Oleh karena itu, kami menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Cabut Pergub DKI No 88/2010

2. Lawan Skenario Intervensi Korporasi Farmasi Asing

3. Selamatkan Industri Nasional

Demikian, pernyataan sikap ini kami sampaikan. Terima kasih.

Jakarta, 29 Oktober 2010

Suroso

Koordinator

(0813 16 444 509)


[1] Pasal 28 H ayat 2 UUD 1945: “Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.”

[2]Pasal 23 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan: “Pimpinan atau penanggung jawab tempat umum dan tempat kerja yang menyediakan tempat khusus untuk merokok harus menyediakan alat penghisap udara sehingga tidak menganggu kesehatan bagi yang tidak merokok.”

[3] Pasal 18 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No 88 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur No 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok: “Tempat khusus merokok harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a, terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung; b. Tidak berdekatan dengan pintu keluar masuk gedung.” Bandingkan dengan pasal 18 Peraturan Gubernur No 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok: “Tempat khusus atau Kawasan merokok harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:  a. tempatnya terpisah secara fisik atau tidak bercampur dengan kawasan dilarang merokok; b. dilengkapi alat penghisap udara atau memiliki sistem sirkulasi udara; c. dilengkapi asbak atau tempat pembuangan puntung rokok. d. dapat dilengkapi dengan data dan informasi bahaya merokok bagi kesehatan.”

[1] Lih4) Lihat Tobacco control movement, di situ ditulis: “The Nazi Party imposed a tobacco ban in every German university, post offpost office, military hospital and Nazi Party office, under the auspices of Karl Astel’s Institute for Tobacco Hazards Research, created in 1941 under oorders from Adolf Hitler. Major anti-tobacco campaigns were widely broadcast by the Nazis until the demise of the regime in 1945.” (http:/(http://en.wikipedia.org/wiki/Anti-smoking_movement). Lihat juga Anti-tobacco movement in Nazi Germany (http:/(http//en.wikipedia.org/wiki/Anti-tobacco_movement_in_Nazi_Germany)

[5] Lihat Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use Grant Programs (http://tobaccocontrolgrants.org/Pages/40/What-we-fund). Laporan ini khusus hibah untuk Indonesia. Lucunya, laporan di website ini kemudian ditutup lagi, setelah media massa Indonesia ramai memberitakan. soal aliran dana tersebut berkenaan dengan fatwa haram rokok Muhamadiyah. Anehnya lagi, saat bisa kembali diakses nama Muhamadiyah sebagai penerima hibah Bloomberg menghilang.

[6] Lihat Apa Smoke Free Jakarta.? (http://www.smokefreejakarta.or.id/?q=node/1). Smoke Free Jakarta adalah organisasi yang dibuat oleh Pemda DKI Jakarta, Swisscontact Indonesia Foundation (SIF) dan International Union Against Tuberculosis & Lung Disease.

[7] Lihat Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use Grant Programs, op.cit.

[9] Lihat The Drug Lords, The Men Who Run The Global Phamaceutical Industry (http://247wallst.com/2010/02/26/the-drug-lords-the-men-who-run-the-global-phamaceutical-industry/)

[10] Lihat biografi singkat William R. Brodi di situs Novartis. (www.novartis.com/downloads/cv/Biography_William_Brody_EN.pdf).  Lihat juga Wiliam R Brody di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/William_R._Brody)

[12] Lihat Melinda Gates continues buying drugstore.com shares , sumber: (http://www.bizjournals.com/seattle/stories/2005/05/09/daily11.html)

[13] Baca Wanda Hamilton; Nicotine War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat, penerbit Insistpress, 2010.

[15] Lihat The Drug Lords, The Men Who Run The Global Phamaceutical Industry, op.cit

[16] Lihat  Christopher Snowdon, The Anti-Smoking Movement. Christopher Snowdon adalah penulis buku Verlvet Glove, Iron Fist. (http://velvetgloveironfist.blogspot.com/2010/10/anti-smoking-movement.html)

Lampiran 1

Fakta Intervensi Asing

Bantuan Bloomberg di Indonesia untuk Program Anti Rokok )*

(1) Kota Bogor 100% Bebas  Rokok

Penerima: Dinas Kesehatan Kota Bogor

Program ini dimaksudkan untuk menjadikan Kota Bogor 100 % terbebas dari rokok pada tahun 2010 yang ditunjukkan dengan implementasi sebuah kebijakan. Langkah-langkah itu termasuk di dalamnya pembentukan komite kontrol tembakau yang akan memonitor dan mengevaluasi. Program ini juga bertujuan untuk menjadikan transportasi umum 100% bebas rokok, kampanye pengurangan tembakau di iklan dan membangun jaringan stake holders.

Nilai                : US$ 228,224 atau sekitar Rp 2 Miliar )**

Program         : Maret 2009-Februari 2011

(2) Advokasi Kebijakan Pajak tembakau yang efektif di Indonesia

Penerima: Lembaga Demografi UI

Mempengaruhi pembuat kebijakan di Indonesia untuk mengusahakan kebijakan harga dan menaikkan pajak tembakau. Program ini akan dicapai melalui kegiatan advokasi yang relevan dan peningkatan kapasitas untuk menaikkan pajak tembakau kepada para pembuat kebijakan dan stakeholder lainnya.

Nilai                : US$ 280,755 atau sekitar Rp 2,5 Miliar

Program         : Oktober 2008-Juli 2010

(3) Membangun Sistem kesehatan masyarakat di Indonesia untuk menerapkan pengendalian tembakau yang efektif

Penerima: Dirjen pengendalian penyakit tidak menular

Program ini dimaksudkan untuk melatih tim NCDC dan memperkuat kapasitas mereka untuk mengembangkan dan menerapkan strategi pengendalian tembakau nasional dan untuk mendukung kegiatan pengendalian tembakau di sedikitnya tujuh provinsi, dengan fokus pada lingkungan 100% bebas asap rokok. Komite pengarah di level provinsi akan dibentuk.

Nilai                : US$ 529,819 atau sekitar Rp 4,7 Miliar

Program         : September 2008-Agustus 2010

(4) Mendukung Kontrol Tembakau

Penerima: Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Tobacco Control Working Group

Nilai                : US$ 491,569 atau sekitar Rp 4,4 Miliar

Program         : September 2009-Agustus 2011

(5) Memobilisasi dukungan publik terhadap fatwa agama untuk Pengendalian Tembakau dan untuk mendukung Petisi FCTC WHO (Framework Convention on Tobacco Control)

Penerima: Muhammadiyah

Proyek ini akan mencari dukungan dari kelompok-kelompok antar-agama untuk pengendalian tembakau dan petisi FCTC. Mendorong keputusan fatwa ulama tentang pelarangan merokok untuk diimplementasikan di seluruh Indonesia, melalui penerbitan dan penyebarluasan fatwa agama tentang bahaya penggunaan tembakau di kalangan Muhammadiyah / Lembaga Islam, konsensus dan advokasi tentang kebijakan agama pada penggunaan tembakau.

Nilai                : US$ 393,234 atau sekitar Rp 3,5 Miliar

Program         : November 2009-Oktober 2011

(6) Advokasi Pelarangan Iklan Rokok untuk Melindungi Hak Anak

Penerima: Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Mengadvokasi secara komprehensif larangan iklan rokok

Nilai                : US$ 455,911 atau sekitar Rp 4,1 Miliar

dan US$ 210, 974 atau sekitar Rp 1,8 Miliar

Program         : Mei 2008-Mei 2010

(7) Capacity Building Kesehatan Masyarakat untuk Kontrol Tembakau

Penerima: Yayaysan Swisscontact Indonesia

Program ini bertujuan untuk membebaskan Jakarta dari asap rokok yang ditunjukkan dengan keluarnya kebijakan kontrol tembakau. Termasuk di dalamnya mendorong banyak sektor masyarakat untuk melakukan kegiatan dalam dua tahun. Mendorong terbentuknya komite penegakan udara bersih Jakarta yang bertugas monitoring dan evaluasi pelaksanaan kontol tembakau

Nilai                : US$ 360,952 atau sekitar Rp 3,2 Miliar

Program         : Mei 2009-April 2011

(8) Rapat Jaringan Pengendalian Tembakau Indonesia (LSM) untuk Perencanaan 2009

Penerima: Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IPHA)

Menyelenggarakan pertemuan LSM untuk mengembangkan kegiatan strategis dalam mendukung kebijakan pengendalian tembakau tahun 2009

Nilai                : US$ 12,800 atau sekitar Rp 1,1 Miliar

Program         : Januari 2009-Mei 2009

(9) Advokasi kebijakan

Penerima: Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Mempengaruhi pembuat kebijakan di Indonesia untuk melakukan kontrol tembakau melalui kebijakan harga dan pajak tembakau yang efektif

Website : www.idfeui.org

Nilai                : US$ 40,654 atau sekitar Rp 3,6 Miliar

Program         :Jun 2008-Agustus 2008

(10) Advokasi untuk dan Daerah Bebas Asap Rokok dan Kebijakan Larangan Beriklan di Jawa

Penerima: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Pusat Studi Agama dan Masyarakat
Melakukan advokasi untuk wilayah bebas asap rokok di Jawa dan membantu dalam pengembangan kapasitas lembaga, untuk meningkatkan kesadaran publik pengendalian tembakau melalui kampanye pendidikan berkelanjutan, untuk melakukan advokasi legislatif pada Gubernur DKI Jakarta, melalui monitoring Peraturan Daerah, dan peraturan pemerintah tentang daerah bebas asap rokok, dan untuk berkolaborasi dengan LSM lain, instansi pemerintah dan media untuk meluncurkan kampanye media yang berkelanjutan.

Nilai                : US $ 454.480 atau sekitar Rp 4 Miliar

Program         : Mei 2008-Mei 2010

)* Lihat Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use Grant Programs (http://tobaccocontrolgrants.org/Pages/40/What-we-fund). Laporan ini khusus hibah untuk Indonesia. Lucunya, laporan di website ini kemudian ditutup lagi, setelah media massa Indonesia ramai memberitakan. soal aliran dana tersebut berkenaan dengan fatwa haram rokok Muhamadiyah. Anehnya lagi, saat bisa kembali diakses nama Muhamadiyah sebagai penerima hibah Bloomberg menghilang

)** Asumsi 1 US$ adalah Rp 9.000

*******

Kampung Jakarta punya andil di balik “keberanian harapan” seorang Obama.

JUM’AT, 16 JANUARI 2009, 20:40 WIB

Edy Haryadi, Rika Panda Pardede, Harriska Farida Adiati, Bayu Galih

VIVAnews – Mata tua Israela Pareira menerawang. Di tengah hujan Jakarta, perempuan berusia 65 tahun itu mencoba keras mengembalikan kenangannya pada sebuah adegan di dalam kelas, puluhan tahun silam.

***

Suatu hari di bulan Mei 1970. Di ruang kelas tiga SD Santo Fransiskus Asisi, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, tengah berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh guru kelas, setiap murid ditugasi membuat tulisan singkat bertema “Cita-citaku.”

Setelah dikumpulkan dan diperiksa satu-persatu, sang guru terkejut. Sementara rata-rata murid menulis ingin jadi pilot, insinyur, atau dokter, satu orang tanpa ragu menulis: jadi presiden!

Tak pelak murid itu jadi pembicaraan di antara guru. “Nama anak itu Barry Soetoro,” Israela mengenang.

Israela, wanita berdarah Flores, adalah guru di SD Asisi itu. Dan Barry Soetoro tak lain adalah Barack Obama, presiden terpilih Amerika Serikat yang kemenangan fenomenalnya dipuja-puji telah membuka harapan baru bagi dunia.

Selama tiga tahun Barry bersekolah di SD Fransiskus Asisi. Seingat Israela, bocah Amerika ini masuk SD Asisi tahun 1968, saat sekolah itu baru berdiri satu tahun. Di tahun 1971, dia lalu pindah ke SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat, saat adik tirinya, Maya Soetoro, lahir. Setelah itu dia kembali ke Hawaii, Amerika Serikat.

Pada masa itu SD Asisi belum seperti sekarang. Lapangan dan lantai sekolah masih berupa tanah merah. Murid-murid tak berseragam dan banyak yang hanya mengenakan sandal. Karena jumlah kelas terbatas, sekolah hanya berlangsung dua jam tiap hari, mulai pukul 07.30 hingga 09.30.

Tiap pagi, dari rumahnya di sebuah gang sempit di Jalan Kyai Haji Ramli No. 16 RT 11 RW 15, Menteng Dalam, Barry berjalan kaki menuju sekolah. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tak sampai 50 meter.

Dia selalu berangkat sekolah diantar ibu kandungnya, Ann Dunham, wanita kelahiran Wichita, Texas, Amerika Serikat. Berbeda dengan ibunya yang seputih susu, kulit Barry hitam gelap. Maklum, ayah Barry berasal dari Kenya.

Ke sekolah, kenang Israela, dandanan Barry selalu rapi. Kemeja putih tangan pendek dan celana pendek di bawah dengkul menjadi ciri khasnya. Dia juga selalu membawa bekal: setakup roti bermentega ditaburi mesies.

Saat masuk sekolah, Barry berumur tujuh tahun. Dia lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Seingat Israela, yang mendaftarkan Barry sekolah adalah Lolo Soetoro, ayah tirinya. Karena Lolo seorang muslim, sesuai kebiasaan di mana agama anak dicatat mengikuti ayah, maka di buku induk sekolah ketika itu Barry tercatat beragama Islam.

Ann Dunham bercerai dengan ayah kandung Barry, Barack Obama Sr., saat anak mereka berumur dua tahun. Ann lalu menikah lagi dengan Lolo, yang saat itu kuliah di Universitas Hawaii. Mereka lalu pindah ke Jakarta saat Soeharto yang baru naik ke panggung kekuasaan Republik menarik pulang mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri.

***

Barry memang sudah “aneh” sedari kecil. Tak hanya bercita-cita sebagai presiden, menurut bekas pengasuhnya, Liah, 51 tahun, bocah ini pun suka berpidato. Salah satu tokoh yang kerap ia tiru pidatonya adalah Soeharto. “Sampai bisa,” kata Liah yang biasa disapa Mbak Non itu.

Bila berpidato, Barry selalu menghadap ibu dan ayah tirinya. Liah diminta berdiri tegak di belakang Barry, seperti lagaknya seorang ajudan. Semua harus diam, tak boleh berisik. Jika Liah menggaruk kakinya karena gatal, Barry akan mengulang pidato, sampai menurutnya semua berjalan sempurna.

Hal lain yang diingat Liah, Barry bukan tipe bocah yang gampang ngambek. Oleh anak-anak di pemukiman padat penduduk itu, Barry kerap diejek dengan sebutan “negro”. Toh, ia menanggapinya dengan tertawa-tawa saja.

Yunaldi Askiar, 46 tahun, mengamini tabiat teman kecilnya di SD Asisi ini. Sepulang dari sekolah, Barry sering bermain di rumah Yunaldi. Kebetulan mereka bertetangga. Rumah Barry bernomor 16, sedangkan Yunaldi 18.

Sembari tertawa, Yunaldi mengakui dulu dia dan teman-temannya yang lain memang sering meledek Barry “negro.” Menanggapinya, Barry hanya tertawa-tawa. Ia paling balas mengejek dalam bahasa Inggris—yang tak dipahami Yunaldi dan teman-temannya. Atau, sesekali dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Salah satu ejekan balasan favoritnya adalah ini: “Kampung!”

Ketika itu, kata Yunaldi bernostalgia, Barry sering mereka ajak berenang di empang belakang SD Asisi. Supaya tak ketahuan ibunya, sebelum pulang Barry biasanya numpang mandi dulu di rumah Yunaldi.

Di antara mereka, Barry kecil dikenal paling pintar bicara. Bermodalkan bahasa gado-gado ia selalu ngotot mendebat teman-temannya dalam segala hal. Yunaldi dan teman-temannya mengaku selalu kalah dalam urusan satu ini—boleh jadi, itu juga karena mereka tak paham maksudnya saat Barry menyerocos dalam bahasa Inggris. “Kalau kita kalah ngomong, dia kita jitakin,” kata Edi Kusnaedi, 47 tahun, teman kecilnya yang lain.

***

Kurun waktu empat tahun (1967-1971) yang dilalui Barry di Indonesia rupanya membekas lebih dalam. Berlarian di lapangan tanah dan berenang di empang berlumpur tak sekadar meninggalkan masa kecil yang indah dikenang. Itu juga ternyata membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Dalam bukunya yang terkenal, the Audacity of Hope (Keberanian Harapan), Presiden Obama menulis: “Sebagian besar dari rasa hormat saya terhadap Bill of Rights justru lahir dari pengalaman masa kecil saya di Indonesia dan juga karena saya memiliki keluarga di Kenya–negara-negara di mana hak-hak individu nyaris semata-mata bergantung pada kehendak para jenderal militer dan pada hasrat kaum birokrat yang korup.”

Tiga puluh delapan tahun telah berlalu sejak Barry Soetoro menulis “presiden” sebagai cita-citanya di SD Asisi, Jakarta. Pada 20 Januari 2009, di tangga barat di halaman Gedung Capitol Hill, Washington, D.C., mimpi nan gagah berani itu pun terwujud: Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44.

sumber:  VIVAnews

Baca Juga:

John Mccain Tantang Obama Bermain Catur

Barack Obama Menang

Garry Kasparov: Manusia Catur

V. Anand: Pertahanan India

Wafatnya Bobby Fischer

(Dua kali batal, akhirnya Presiden Amerika Serikat Barack Obama datang juga ke Indonesia. Kunjungannya memang amat singkat, hanya kurang dari 24 jam, Tapi Obama telah berhasil memikat hati bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari pidatonya di Universitas Indonesia, Rabu 10 November 2010,  sebelum dia berangkat ke Korea  Selatan. Obama karenanya boleh disebut sebagai seorang maestro catur di kehidupan nyata. Ketulusan dan keyakinannya untuk mengkoreksi tesis Samuel P. Huntington bahwa abad modern adalah the clash of civilizations, benturan peradaban antara negara maju dan Islam. Ini adalah bagian terpenting dari langkah kuda Barack Obama. Padahal teori Huntington itulah yang menjadi landasan pembenaran bagi George Bush jr untuk menganeksasi Irak dan mendeklarasikan war of terror, di bawah nasehat para hawkish,  politisi ultrakonservatif dari Partai Republik. Maka berikut adalah teks lengkap pidato Obama yang bersejarah di UI, Depok itu.  Pidato ini  dikutip dari vivanews.com)

Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk Jakarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.

Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.

Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.

Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari berbagai daerah dan suku, periode saya tinggal di negeri ini melapangkan jalan bagi saya menghargai kemanusiaan. Walau ayah tiri saya, sebagaimana orang Indonesia umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia sepenuhnya percaya bahwa semua agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, yang tentunya memberi inspirasi.

Saya tinggal di kota ini selama bertahun-tahun — sungguh suatu masa yang membentuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang manis, Maya; dan suatu masa yang telah memesona ibu saya sehingga ia terus-menerus menghampiri Indonesia 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan bepergian – mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan di pedesaan Indonesia khususnya bagi perempuan. Sepanjang hidupnya, negeri ini, beserta orang-orangnya, tetap tersimpan di hati ibu saya.

Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii. Jika kalian bertanya kepada saya – atau teman sekolah pada masa itu yang mengenal saya – saya yakin tak ada di antara kami yang mampu menyangka bahwa saya akan kembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Dan beberapa orang semestinya bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dekade terakhir.

Jakarta yang dahulu saya kenal kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang dijejali hampir sepuluh juta manusia, gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia terlihat kerdil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan. Dulu saya dan kawan-kawan semasa kanak biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan paling terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosial. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda berfokus ke dalam. Kini, bangsa ini memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.

Perubahan ini menjangkau ranah politik. Waktu ayah tiri saya masih kanak, ia menyaksikan ayah dan abangnya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia. Saya lega bisa ada di sini tepat ketika Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begitu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.

Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa daerah di negeri ini baru saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meski ayah tiri saya pernah menjadi seorang tentara, kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekisruhan politik itu tak dapat saya pahami karena keluarga Indonesia dan teman-teman saya memilih bungkam. Di dalam rumah tangga saya, seperti keluarga Indonesia umumnya, peristiwa itu hadir secara sembunyi-sembunyi. Bangsa Indonesia merdeka, tapi rasa takut senantiasa mengikuti.

Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalurnya sendiri melalui tranformasi demokratis yang luar biasa – dari pemerintahan tangan besi, ke pemerintahan rakyat. Tahun-tahun belakangan, dunia menyaksikan dengan harapan dan rasa kagum usaha bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai dan pemilihan kepala negara serta daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini disimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil rakyat, ketika itu pula demokrasi dijalankan dan dipelihara melalui kontrol dan keseimbangan (check dan balance): Sebuah masyarakat madani, partai dan serikat politik yang madani; media dan warga negara penuh semangat yang telah yakin bahwa – di dalam Indonesia – tak ada lagi jalan memutar.

Bahkan ketika tanah tempat kemudaan saya pernah berlalu ini telah berubah banyak, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia – semangat toleransi yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan terpacak melalui masjid, gereja dan candi, pun tertanam dalam darah bangsa – masih mengalir di tubuh saya. Bhinneka Tunggal Ika – persatuan dalam keragaman. Falsafah itu merupakan pondasi yang dicontohkan Indonesia kepada dunia. Itu sebabnya Indonesia akan memainkan peran penting pada abad ke-21.

Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden yang mengharapkan terjalinnya kerja sama erat antar kedua negara. Sebagai negara yang luas dan majemuk, berdamping-dampingan dengan Samudera Pasifik dan, di atas itu semua, demokrasi, Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai yang sama.

Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya menyetujui Kerja Sama Komprehensif yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Pemerintahan kedua negara mempererat hubungan di berbagai bidang dan, yang juga penting, memperkuat hubungan antar bangsa. Kerja sama ini tentunya berdasar atas rasa saling membutuhkan dan saling menghormati.

Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa kisah yang baru saja saya utarakan begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia: Pembangunan, demokrasi dan agama.

Pertama, persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan pembangunan yang saling menguntungkan.

Ketika saya hidup di Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan dimana kemakmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan Jakarta akan berhubungan. Kini, kita ada pada zaman ekonomi global. Bangsa Indonesia telah merasakan risiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. Artinya, dan yang akhirnya kita pelajari dari krisis ekonomi barusan, masing-masing dari kita memiliki sumbangsih pada keberhasilan yang diraih pihak lain.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian dari Indonesia yang merasakan kemakmuran, karena tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bagi produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia. Karena itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah naik 50 persen, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia untuk saling berhubungan.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia, yang memainkan peranannya dalam perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelompok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini G-20 telah menjadi pusat kerja sama ekonomi internasional: Hal yang memungkinkan negeri seperti Indonesia memiliki suara lebih nyaring dan tanggung jawab lebih besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di dalam kelompok G-20 yang memerangi korupsi, negeri ini harus ada di depan pada panggung dunia dengan memberikan contoh baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup kita serta kesejahteraan planet yang kita diami. Karena itulah kita mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan negeri anda dalam usaha global memerangi perubahan iklim.

Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Indonesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa karena kita akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa nanti. Itu yang kini sedang kita rintis: Meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerja sama memelihara kewirausahaan. Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas-universitas yang ada pada kedua negara.

Baru saja saya bicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula, pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-angka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu mempelajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana gagasan baik dapat diwujudkan dan tak tercemar dengan korupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaiman kekuatan-kekuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi, perdagangan, arus keluar-masuk orang dan barang – mampu membuat hidup orang jadi lebih baik: Kehidupan uang ditandai dengan martabat dan kesempatan.

Pembangunan semacam itu tak mampu dipisahkan dari demokrasi.

Kini, kita sering mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukanlah alasan baru. Orang akan berkata, khususnya di tengah perubahan dan kondisi ekonomi tak menentu, bahwa pembangunan akan lebih mudah dijalankan dengan mengorbankan hak asasi manusia. Tapi, saya tak melihat itu di India, juga Indonesia. Apa yang kalian telah raih menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling menopang.

Seperti laiknya demokrasi di negara lain, halangan selalu merintangi. Amerika juga mengalaminya. Undang-undang Dasar yang kami miliki menyatakan upaya untuk menempa “penyatuan lebih sempurna.” Kami telah menempuh perjalanan untuk meraih itu. Kami melewati Perang Saudara dan berjuang menegakkan hak-hak pribadi warga negara Amerika Serikat. Usaha itu kemudian membuat kami lebih kuat dan sejahtera serta menjadi sebuah masyarakat yang lebih adil dan bebas.

Seperti negara lain yang bangkit dari pemerintahan kolonial di abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban demi memiliki hak menentukan nasib sendiri. Itulah makna Hari Pahlawan sesungguhnya: Sebuah Indonesia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tapi, secara bersamaan, kemerdekaan yang telah didapatkan itu tak pula berarti menggantikan kekuatan kolonial dengan kekuatan pemerintahan lokal.

Tentunya, demokrasi morat-marit. Tak semua pihak menyukai hasil akhir suatu pemilihan umum. Kalian semua mengalami segala suka dan duka. Namun, perjalanan itu patut dilewati karena tak hanya melulu mengenai surat suara. Butuh lembaga yang kuat untuk mengontrol pemusatan kekuatan. Butuh pasar terbuka untuk memungkinkan banyak individu maju. Butuh pers dan sistem peradilan yang independen. Butuh masyarakat terbuka dan warga negara yang aktif untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan.

Yang demikian adalah kekuatan yang akan mendorong Indonesia. Korupsi harus dilawan. Komitmen pada keterbukaan, yang memungkinkan tiap warga memiliki sumbangsih terhadap pemerintahannya, mesti ada. Kepercayaan bahwa kemerdekaan yang telah direbut merupakan hal yang tetap menyatukan negeri ini harus ditumbuhkan.

Itu adalah pesan dari manusia Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini: Dari mereka yang berperang di Surabaya 55 tahun lampau; kepada para mahasiswa yang tergabung dalam demonstrasi tahun 1990an; kepada para pemimpin yang telah berhasil menjalani transisi kekuasaan secara damai pada awal abad ini. Karena, akhirnya, para warga negara memiliki hak untuk menyatukan Nusantara, yang membentang sepanjang Sabang dan Merauke: Sebuah penegasan bahwa setiap bayi yang lahir di negeri ini wajib diperlakukan dengan adil meski mereka berketurunan Jawa, Aceh, Bali atau Papua.

Upaya-upaya semacam itu ditunjukkan Indonesia kepada dunia. Negeri ini berinisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dalam menjaga demokrasi. Indonesia juga telah berusaha menekan ASEAN memperhatikan hak asasi manusia. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara berhak menentukan takdirnya sendiri dan Amerika Serikat akan mendukung upaya itu. Namun, warga Asia Tenggara harus pula memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Itu sebabnya kami mengutuk pemilihan umum di Burma, yang jauh dari kebebasan maupun keadilan. Itu sebabnya kami menyokong masyarakat madani yang penuh semangat di negeri ini. Tidak ada alasan untuk mencegah penegakan hak asasi manusia di manapun.

Itulah pembangunan dan demokrasi – gagasan bahwa ada nilai-nilai yang sifatnya universal. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Manusia memiliki cita-cita bersama: Kebebasan untuk tahu bahwa pemimpinmu bertanggung jawab atasmu dan bahwa anda takkan dibui bila memiliki pandangan yang berseberangan dengannya. Anda memiliki kesempatan belajar dan bekerja dengan kemuliaan. Anda bebas menjalankan kepercayaan yang anda anut tanpa takut dikucilkan.

Agama merupakan topik terakhir yang akan saya bicarakan hari ini dan, seperti layaknya demokrasi dan pembangunan, merupakan hal mendasar bagi kisah Indonesia.

Seperti negara Asia lain yang saya kunjungi, Indonesia tenggelam dalam spiritualitas: Sebuah tempat manusia menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Sejalan dengan keberagamannya, Indonesia juga negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia – hal yang telah saya ketahui sejak kecil ketika mendengar lantunan azan di Jakarta.

Suatu Individu tak hanya didefinisikan berdasarkan kepercayaannya. Begitu pula Indonesia. Negeri ini tidak hanya ditetapkan berdasarkan penduduk Muslimnya. Kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam telah lama rusak. Sebagai Presiden, saya mendahulukan perbaikan atas hubungan yang rusak ini. Salah satu upaya itu adalah kunjungan ke Kairo pada bulan Juni yang lalu dan keinginan untuk memulai lagi hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan umat Islam sedunia.

Waktu itu saya bilang, dan akan saya ulangi sekarang, bahwa tak ada satu pidato pun yang dapat menghapuskan tahun-tahun penuh ketidakpercayaan. Tapi waktu itu saya percaya, demikian pula sekarang, bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk bisa menetapkan diri kita berdasarkan perbedaan-perbedaan yang kita miliki dan menyerah pada masa depan yang penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau kita bisa memilih untuk bekerja keras demi memelihara persamaan hak. Saya berjanji, apapun rintangannya, Amerika Serikat akan berkomitmen memajukan manusia. Itulah kami. Kami telah melakukannya. Kami akan terus menjalankannya.

Kami tahu baik masalah-masalah yang menyebabkan adanya tekanan bertahun-tahun ini. Kami telah menciptakan kemajuan setelah 17 bulan pemerintahan. Tapi, pekerjaan belum selesai.

Banyak warga tak berdosa di Amerika, Indonesia dan belahan dunia lainnya masih menjadi target kaum ekstremis. Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang memerangi, dan takkan terlibat perang dengan, Islam. Namun, kita semua harus menghancurkan Al-Qaeda dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh bekerja sama dengan teroris. Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia telah berhasil memerangi para teroris dan aliran garis keras.

Di Afghanistan, kami terus bekerja bersama beberapa negara untuk membantu pemerintah Afghanistan meretas masa depannya. Kepentingan kami di sana adalah memungkinkan terwujudnya perdamaian yang pada akhirnya mampu memunculkan harapan bagi negeri itu.

Kami juga telah mencatat kemajuan dalam salah satu komitmen utama kami: Upaya mengakhiri perang di Irak. 100 ribu tentara Amerika telah meninggalkan negeri itu. Penduduk Irak telah memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Kami terus mendukung Irak dalam prosesnya membentuk pemerintahan yang inklusif. Kami juga akan memulangkan seluruh tentara AS.

Di Timur Tengah, kami telah menghadapi permulaan yang gagal serta halangan. Namun, kami juga terus menjaga upaya merengkuh perdamaian. Bangsa Israel dan Palestina memulai kembali perundingan. Namun, masih ada masalah besar di sana. Ilusi bahwa kedamaian dan keamanan akan datang dengan mudah tak boleh muncul. Tapi, singkirkanlah keragu-raguan: Kami takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh hasil yang adil bagi semua pihak yang bertikai: Dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan secara damai dan sentosa.

Penyelesaian atas masalah-masalah itu memiliki taruhan yang besar. Dunia yang kita huni telah menjadi kian kecil. Sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita membuka kesempatan, kekuatan-kekuatan itu juga menyokong pihak yang ingin menghambat kemajuan. Sebuah bom di tengah pasar melumpuhkan kegiatan jual-beli. Sepotong gosip dapat mengaburkan kebenaran dan memicu kekerasan di tengah masyarakat yang sebelumnya hidup rukun. Di zaman ini, ketika perubahan begitu cepat dan berbagai budaya berbenturan, apa yang kita bagikan sebagai manusia dapat musnah.

Saya percaya bahwa sejarah Indonesia dan Amerika mampu memberikan kita harapan. Kisah keduanya tertulis dalam semboyan yang dimiliki oleh negara kita masing-masing. E pluribus unum – beragam tapi bersatu. Bhinneka Tunggal Ika – persatuan dalam keberagaman. Kita dua bangsa yang mengambil jalan masing-masing. Namun kedua negara ini menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki kepercayaan berbeda mampu bersatu dengan merdeka di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membangun kemanusiaan melalui anak-anak muda yang akan melalui pendidikan di sekolah masing-masing; melalui wirausahawan yang saling berhubungan demi meraih kemakmuran; dan melalui upaya kita memeluk nilai-nilai demokrasi serta cita-cita manusiawi.

Tadi saya mampir ke Masjid Istiqlal. Rumah ibadah itu masih dalam pengerjaan ketika saya tinggal di Jakarta. Saya mengagumi menaranya yang menjulang, kubah yang megah, serta tempatnya yang lapang. Namun, nama serta sejarahnya juga menjadi saksi kebesaran Indonesia. Istiqlal maknanya kemerdekaan. Bangunan itu sebagiannya merupakan wasiat perjuangan sebuah bangsa menuju kemerdekaan. Terlebih lagi, masjid itu dibangun oleh seorang arsitek Kristen.

Itulah semangat Indonesia. Itulah pesan yang diimbuhkan dalam Pancasila. Di sebuah negeri kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Tuhan yang paling elok, pulau-pulau yang menyembul dari samudera, orang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka sembah. Islam berkembang, begitu pula ajaran lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang sedang berkembang. Tradisi purba terpelihara meski sebuah kekuatan sedang lahir.

Tapi bukan berarti Indonesia negeri sempurna. Tak ada satu negeri pun yang bisa. Tapi di sini ras, wilayah, dan agama yang berbeda mampu dijembatani. Sebagai seorang bocah yang berasal dari suatu ras dan datang dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat untuk melihat diri sebagai seorang individu dalam ucapan “Selamat Datang”. Sebagai seorang pemeluk Kristiani yang mengunjungi masjid, saya mengutip pendapat seseorang yang ditanyai tentang kunjungan saya: “Orang Islam juga boleh masuk gereja. Kita semua adalah umat Tuhan.”

Ungkapan itu mencetuskan gagasan bahwa sifat ketuhanan ada di dalam diri kita. Kita tak boleh menyerah pada penyangkalan atau sinisisme atau keputusasaan. Kisah yang melibatkan Indonesia dan Amerika menunjukkan kepada kita bahwa sejarah mengikuti perkembangan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa warga dunia dapat hidup dengan damai. Semoga kedua negeri kita dapat terus bekerja sama, dengan kepercayaan dan determinasi, menyebarkan kebenaran-kebenaran ini dengan seluruh manusia. *

• VIVAnews

Pada usia 13 tahun, dia sudah mencatatkan diri sebagai grand master catur termuda ketiga dalam sejarah. Beberapa pecatur top dunia sudah dia tumbangkan. Dan pada tanggal 1 Januari 2010 kemarin, Magnus Carlsen, pecatur Norwegia yang kini berusia 19 tahun, menjadi pecatur termuda dalam sejarah yang berhasil menempati peringkat satu rating yang dibuat Federasi Catur Sedunia (FIDE). Majalah Time terbaru mewawancarainya. Berikut pengakuan Magnus Carlsen.

Ketika Anda berada di peringkat satu  pecatur dunia, apa Anda merasa 40.000 kali lebih pandai ketimbang mereka?

Ya, ini memang terlihat sedikit aneh. Saya mencoba mengatakan pada publik bahwa saya sama seperti mereka. Saya bukan orang aneh. Saya mungkin pemain catur yang baik, tetapi saya manusia normal.

Anda bukan intelek yang normal. Berapa langkah ke depan yang biasanya Anda kalkulasi saat bermain?

Terkadang 15 sampai 20 langkah ke depan. Tetapi triknya adalah selalu mengevaluasi posisi pada akhir kalkulasi.

Pelatih Anda, bekas juara dunia Garry Kasparov, mengatakan kekuatan Anda bukan pada kalkulasi langkah, tetapi kemampuan intuisi Anda, meski tujuan akhirnya belum jelas. Benarkah demikian?

Saya memang memiliki kemampuan alamiah untuk setiap posisi dan di mana seharusnya saya meletakkan buah catur. Kadang Anda harus memilih langkah yang Anda rasa benar; inilah intuisi. Tapi ini sulit dijelaskan.

Apakah Kasparov memberitahu Anda hal-hal di luar catur, dan sikap pembangkangannya dalam dunia politik di Rusia?

Dia guru catur saya. Ketika dia bersaing dengan Putin, saya tidak ingin ikut campur.

Grand master Inggris Nigel Short mengatakan program komputer catur, yang kerap kali mengalahkan pemain hebat manusia, telah mengambil alih misteri permainan ini. Ia mengatakannya seperti “peta petunjuk di hutan Amazon.” Apa pendapat Anda tentang hal ini?

Saya bisa menangkap maksudnya. Setiap pemain amatir sekarang dapat mengakses pertandingan tingkat tinggi, dan menganalisa misteri di balik setiap langkah dengan bantuan evaluasi komputer. Tapi saya tidak takut komputer akan mengambil alih semua ide dan tak meninggalkan sisa lagi bagi imajinasi.

Apakah Anda menggunakan komputer dalam studi catur Anda?

Saya tidak menggunakan papan catur manual saat saya tengah belajar sendiri. Banyak orang datang ke rumah saya dan bilang “Kamu pasti punya banyak papan catur.” Saya katakan, “Hem, barangkali saya punya satu tapi entah di mana sekarang, saya tidak begitu yakin.”

Anda melihat catur sebagai permainan perang atau permainan seni?

Perang. Saya mencoba mengalahkan seseorang yang duduk di seberang saya dan memilih langkah yang tidak enak buat dia dan merusak gaya permainannya. Tentu saja, ada beberapa permainan catur yang begitu indah seperti sebuah seni, tapi bukan itu tujuan saya.

Apakah Anda punya penjelasan mengapa hanya sedikit pecatur wanita yang berada di kalangan elit pecatur?

(Pecatur Hungaria) Judit Polgar adalah salah satu pecatur wanita di 10 besar dunia, tetapi saya tidak tahu mengapa tidak banyak pecatur wanita di peringkat elit itu. Saya juga menentang pendapat kebanyakan orang, saya tidak yakin ini karena alasan genetik.

Anda tidak membeli buku psikologi yang menjelaskan bahwa secara insting wanita tidak suka melakukan pengorbanan?

Nyatanya, banyak pecatur wanita memainkan permainan agresif. Maka saya tidak membeli buku itu.

Catur banyak memiliki jenius, yang terkenal di antaranya adalah Paul Morphy dan Bobby Fischer, yang kemudian menghilang karena gila. Apa Anda tidak takut akan jadi seperti mereka?

Sulit untuk meramalkan masa depan, tetapi sekarang saya tidak melihat diri saya tengah menuju kegilaan. Memang amat mudah terobsesi dengan catur. Inilah yang terjadi pada Fischer dan Morphy. Saya tidak memiliki obsesi yang sama. Saya hanya mencintai permainan ini, dan mencintai kompetisi, tetapi saya tidak tergila-gila seperti mereka. (TIME/SM)

*****

VLADIMIR Kramnik, bekas juara dunia catur dan peringkat 4 dunia, tengah bermain di ronde pertama London Chess Classic, turnamen catur paling kompetitif di ibu kota Inggris selama 25 tahun terakhir. Ia tinggi, tampan dan berwajah dingin. Dia cocok dengan permainan itu: seperti seorang pembunuh canggih. Hari itu, dia tengah menyusun sebuah serangan mematikan secara perlahan dan metodis.

Lawannya, adalah seorang anak muda yang terlihat sulit untuk diam. Magnus Carlsen seperti anak muda lainnya, selalu bergerak-gerak di kursinya. Ia kerap berdiri dan berjalan ke sisi lain ruangan. Melihat-lihat notasi dalam ukuran besar yang mengambarkan langkah kedua pecatur itu untuk penonton. Lalu kembali ke meja untuk menggerakkan buah caturnya. Ia menggerakkan buah caturnya perlahan-lahan. Dan pada langkah ke 43, sebuah serangan mendadak Carlsen membuat Kramnik kehilangan akal. Kramnik mulai kehilangan kendali posisi. Pria tampan itu menyerah. Carlsen menang…

Seorang jenius, memang bisa muncul di mana saja. Tetapi bakat asli Carlsen tumbuh secara misterius. Pada usia 19 tahun, di awal tahun 2010 ini, Magnus Carlsen, berjalan ke sebuah dekade baru. Menurut rating FIDE (Federasi Catur Internasional) dia mendapat 2810 poin dan menempatkan dia di posisi nomer satu pecatur dunia! Peringkatnya lima poin di atas Vaselin Topalov dan 20 poin di atas juara dunia catur Vishy Anand. Sebuah pencapaian mengejutkan!

Ini sebetulnya bukan hal baru. Sejak bulan November 2009, Carlsen, yang saat itu masih berusia 18 tahun, sebenarnya telah menjadi pecatur termuda di dalam sejarah yang menduduki peringkat pertama FIDE. Dia berasal dari Norwegia, sebuah “negara kecil, dengan jumlah pecatur sedikit dan hampir tak ada sejarah kesuksesan,” kata grand master Inggris, Nigel Short.

Dan, tidak seperti anak ajaib lain yang bermain catur secara penuh pada usia 12 tahun, Carlsen masih tetap duduk di bangku sekolah hingga akhir tahun lalu. Ayahnya, Henrik, seorang insinyur, berkata dia sering mengingatkan anaknya untuk lebih dulu mengerjakan PR ketimbang bermain catur. Sampai sekarang pun, Henrik sering menyela keasyikan Carlsen bermain catur dengan mengajaknya keluar rumah bersama keluarga untuk piknik ke museum. “Saya masih sering mengajaknya,” kata Henrik. “Karena bukan catur yang kami inginkan ada di pikiran Magnus.”

Bahkan, pecatur profesional terkejut dengan kemunculan Carlsen. Ia menjadi grand master pada usia 13 tahun –pecatur ketiga termuda dalam sejarah– dan menjadi pemain catur top dunia pada usia 15 tahun. Karena itu Carlsen sering disamakan dengan Mozart, jenius musik klasik yang mulai memperlihatkan kejaiban pada usia muda.

Pada bulan September 2009, ia mengumumkan sebuah kontrak pelatihan dengan Garry Kasparov, seorang pemain catur terhebat dalam sejarah, yang berhenti bermain catur pada tahun 2005 dan memilih menjadi politikus di Rusia. “Sebelum dia berhenti bermain catur,” kata Kasparov, “Carlsen akan merubah permainan klasik ini secara drastis.”

Saat diwawancara, Carlsen hanya menunjukkan sedikit bakat kejeniusannya. Ucapannya, seperti juga gaya permainan caturnya, sangat teknis, miskin gramatika dan kerap tidak logis. Dia memang menggunakan pakaian formal, memakai jas. Tapi dia nampak tersiksa. Sebagai anak muda, dia juga jarang melihat mata lawan bicaranya.

Carlsen bergabung ke elit catur dunia dalam waktu yang tak terduga. Ia adalah satu generasi pecatur yang belajar permainan ini dari komputer. Sampai hari ini, ia tidak yakin masih memiliki papan catur sungguhan di rumahnya. “Saya barangkali masih punya  papan catur. Tapi entah di mana benda itu sekarang,” katanya. Program catur hebat, yang sekarang rutin mengalahkan pemain catur manusia, telah membuat seorang grand master belajar ke tingkat yang lebih mendalam tentang sebuah posisi bidak. Nigel Short berkata banyak pemain top dunia kini menghabiskan waktunya mencoba sebuah langkah berulang-ulang dengan program komputer itu sehingga berhasil menguak misteri langkah catur. Ia menyamakan program komputer catur sebagai “peta di dalam hutan belantara Amazon.”

Namun Kasparov mengungkapkan, kejeniusan Carlsen justru berakar dari “intuisi yang tidak bisa diajarkan oleh komputer,” dan dia memiliki “sebuah insting alamiah saat meletakkan sebuah bidak catur.”

Menurut Kasparov, Carlsen memiliki insting dan energi potensial saat menggerakan buah caturnya, dan pilihan itu terkadang tak diperhitungkan oleh setiap orang –termasuk oleh komputer. Memang, dalam pertandingan Carlsen yang tengah berjalan, seorang analisis biasanya tak bisa menebak arah langkah pemuda itu seperti saat ia berlaga melawan Kramnik, sampai pertandingan itu usai dengan sempurna dengan kemenangan di tangan Carlsen. “Sangat sulit dijelaskan.” kata Carlsen. “Kadang saya menggerakkan buah catur ke arah yang saya rasa benar.”

Carlsen punya kebiasaan unik. Dia sering mengkalkulasi 20 langkah ke depan sebelum menggerakkan bidaknya. Ia juga bisa bermain catur buta dengan menyebut notasi-notasi yang dia pilih tanpa perlu melihat ke papan permainan. Banyak grand master berkata pemuda itu mengingatkan mereka pada seorang Bobby Fischer.

Pemain kenamaan Amerika itu menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan mengisolasi diri. “Amat mudah terobsesi pada catur,” kata Carlsen. “Itulah yang terjadi pada Bobby Fischer dan Paul Morphy,” seorang jenius catur yang belakangan menjadi gila. “Namun, saya tidak memiliki obsesi seperti mereka.”

Meski sekarang dia berada di peringkat puncak pecatur dunia, terima kasih untuk kemenangannya di London, Carlsen kini harus berjuang keras mengikuti kompetisi catur berkualitas untuk memuluskan langkahnya agar bisa memperebutkan gelar juara dunia catur, yang diadakan setiap dua atau tiga tahun sekali. Sebab, itu adalah puncak karir seorang pecatur terbaik di planet ini.

Walau demikian, ayahnya lebih khawatir tentang “apakah catur akan membuat anaknya bahagia.” Tapi barangkali memang itulah yang terjadi. “Saya menyukai permainan ini. Saya menyukai kompetisi,” kata Carlsen. Saat ditanya sampai kapan dia akan bermain catur, dia mengatakan, “Terlalu sulit untuk diprediksi.”

Sejauh ini, dia sepertinya sudah membuat langkah yang benar. (TIME/WP/SM)

***

Sang grandmaster mendorong ketertarikanku pada catur dan: bahasa Latin.

Memang mengelikan mengingat bagaimana sebuah kejadian terjadi pada masa lalu.

Sebagai contoh, andai saja Bobby Fischer tidak pergi ke Reykjavik, Islandia, untuk melawan Boris Spassky dalam pertandingan catur musim panas 1972, saya barangkali tak pernah mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Latin saat duduk di bangku sekolah menengah di Medford, Massachusetts.

Kedengarannya memang berlebihan, saya tahu itu, tapi dengarkan saya sekarang.

Sebagai pemula, anda tak bisa tidak mengenang grandmaster Amerika, Bobby Fischer.

Saat itu dia memainkan pertandingan catur ke tingkat popularitas yang tak pernah terbayangkan, terima kasih atas permainan jenius dan tingkah laku eksentriknya. (Ia meninggal hanya satu tahun setelah kembali ke Islandia).

Setelah melalu masa penuh ketidakpastian, utamanya terkait dengan hadiah uang, Fischer setuju melawan Spassky dalam Kejuaraan Dunia Catur di Reykjavik. Pertandingan pertama dimulai tanggal 11 Juli 1972.

Saya tidak tahu persis bagaimana saya menghabiskan liburan musim panas, tetapi saya yakin pertandingan itu memakan banyak babak dengan “waktu yang tidak ditentukan.”

Akibatnya, saya banyak menghabiskan waktu saat menonton Kejuaraan Dunia Catur itu di saluran 2 PBS, Boston.

Anehnya, laporan itu –yang menyertakan analisis grandmaster Shelby Lyman di tiap pertandingan (termasuk setiap langkah) Fischer-Spassky— termasuk laporan dengan rangking penonton tertinggi dalam sejarah program PBS.

Studio TV itu dihiasi sebuah papan catur raksasa, lengkap dengan persebaran perwira dan pion yang dilakukan Lyman pada tiap langkah pertandingan yang dia terima melalui teleks, seperti halnya beberapa papan catur yang dia buat untuk analisis pada pertandingan sebelumnya.

Walau demikian, pertunjukan itu penuh inspirasi, dan bulan September 1972 saat saya masuk kelas 8 Lincoln Junior High School, saya masuk sekolah dengan perasaan bahwa saya akan menjadi juara dunia catur Amerika berikutnya.

Untuk mengkondisikan diri saya, saya selalu tinggal di sekolah beberapa hari setiap minggunya untuk melibatkan diri dalam pertandingan catur persahabatan dengan guru bahasa Inggris saya, tuan Kelly.

Tuan Kelly, begitu saya memanggilnya, memiliki semangat yang sama untuk pertandingan itu. Namun sayangnya tak banyak menarik pelajaran dari nasehat Shelby Lyman di PBS. Dia selalu mengambil langkah yang sama, dan ketika akhirnya dia terpaksa menyerahkan buahnya, hal itu menekannya semakin dekat ke sebuah skak mat.

Sementara menunggu dia melangkah, saya sering berkeliling di kelas tuan Kelly.

Suatu hari, saya tengah melihat gelas kaca di dekat sebuah lemari. Sebuah buku bahasa Latin tua mendadak menarik perhatian mata saya. Saya ambil buku yang sudah penuh debu itu, menandakan buku itu tak pernah tersentuh selama beberapa dekade, lalu mulai membaca kalimat sederhana, dan berkomitmen untuk selalu mengingatnya.

Lain waktu, saya bertemu tuan Antico, satu dari dua pembimbing sekolah Lincoln dan seseorang yang tergila-gila pada bahasa. Saya lalu mengucapakan kalimat sederhana yang saya ingat: Britannia insula est (sesuatu di sana). Dan Agricola langsung menangkap arti kata-kata saya.

Pertemuan itu merubah hidup saya.

Tuan Antico seorang lelaki bertubuh besar, mungkin menandakan dia memiliki latar belakang Italia, tak takut menunjukkan emosinya –khususnya ketika seseorang mendemosntrasikan penggunaan bahasa secara ceroboh.

Dia memukul bahu kanan saya dan meraihnya langsung ke hadapan dia. “Bagus sekali Stefanos Rex,” katanya.

Saya jadi ingin lebih banyak mengetahui.

Selama sembilan bulan kemudian di kelas 8, menjadi saat yang membuat saya dekat dengan tuan Antico saat dia mengajarkan saya beberapa detail tata bahasa Latin.

Pada jam 12.30, saat waktu istirahat, tuan Antico akan selalu memanggil saya melalui pengeras suara untuk masuk ke ruangannya.
Pada panggilan pertama dia menghidupkan mik untuk seluruh ruang sekolah. “Stefanos Rex ke kantor saya, segera.”

Setelah itu, saya mengikuti panggilannya ke ruang guru, lalu mendapat petunjuk dari dia tentang beberapa cara penggunaan bahasa Latin. Lalu saya berjalan ke perjalanan panjang, melewati sejumlah percakapan, seperti memberikan hak-hak istimewa bagi diri saya.

Dengan bimbingan tuan Antico, saya menghabiskan banyak waktu di ruangnya untuk belajar kata benda dan kata kerja bahasa Latin, dan tidak diragukan lagi, sebagai hasilnya kemampuan bahasa Inggris saya meningkat pesat.

Pada akhir tahun itu, saya mulai meninggalkan mimpi saya sebagai pecatur dunia, tetapi bahasa Latin selalu mengingatkan saya pada impian itu. Saat saya menghabiskan tiga tahun di sekolah tingkat atas, hubungan antara catur dan bahasa Latin masih terus terjadi.

Barangkali, anda perlu melihat kasus ini sebagai sebuah kasus klasik… (CSM/SM))

Jawaban atau solusi problem catur pekan lalu

1.  Rh1! Bd7 2. Qb1 Bb5 3. Qg1# atau
2. RH1! Be8 2. Qb1 Bxf7 3. Qb4#

Keterangan Notasi
K: King/raja
Q: Queen/Ratu
N: kNights/Kuda
B: Bishop/Patih/Gajah
R: Rooks/Benteng
p: pawn/pion

Sergey Karjakin dari Ukraina, berhasil memenangkan turnamen catur Corus, Minggu waktu setempat, 2 Januari 2009. Kemenangan pecatur 19 tahun  ini tidak terlalu mengejutkan mengingat kemampuannya untuk menang.

Dia merupakan pemegang rekor grandmaster (GM) termuda sepanjang sejarah yang mampu menempatkan dirinya di peringkat 30 dunia sejak tahun 2006. Praktis, terobosan di hari terakhir turnamen utama ini pun, tak terlalu mengagetkan.

Barangkali yang lebih mengejutkan, dia bisa muncul sebagai pemenang dari enam pecatur lain yang memperoleh nilai sama pada babak terakhir.  Nilainya sama dengan Levon Aronian dari Armenia, Teimour Radjabov dari  Azerbaijan, Sergei Movsesian dari Slovakia, Leinier Dominguez Perez dari Kuba dan Magnus Carlsen dari Norwegia.

Dengan begitu banyak pecatur hebat, pertarungan berjalan ketat sejak babak pertama hingga babak akhir. Namun, ketika Aronian, Radjabov dan Movsesian hanya bisa bermain seri dengan lawan masing-masing pada babak akhir,  Karjakin justru berhasil menjungkalkan Dominguez dan Carlen kalah dari Wang Yue dari China.

Kemenangan Karjakin kali ini membuat dia berhak masuk babak kualifikasi Grand Slam Final Master Catur –sebuah kompetisi yang hanya diikuti juara-juara turnamen catur utama.

Lawannya, Dominguez, yang memegang buah putih, melancarkan serangan spekulatif, tetapi pertahanan akurat Karjakin membuatnya dapat melepas serangan balik yang menghancurkan raja Dominguez. Dalam sebuah posisi penuh komplikasi, pengorbanan Dominguez, atau lebih tepatnya blunder pertukaran perwira (benteng ditukar kuda). Kedua raja akhirnya saling berkejaran, tatapi Karjakin berhasil menyembunyikan Raja, dan pada akhirnya, Dominguez menyerah saat skak mat sudah di ujung mata.

Pertarungan Magnus Carlsen melawan Wang berlangsung kurang dramatis. Memegang buah hitam, Carlsen semula mencoba bermain menekan, tapi pertahanan Wang begitu bagus dan akhirnya peluang menyerang berbalik.
Carlsen membuat kesalahan besar setelah melakukan blunder sehinga dia bermain untuk mencari draw, sehingga Wang mulai menekan melalui pion di jantung pertahanan lawan.

Salah satu permainan defensif yang ditunjukkan terjadi saat Alexander Morozevich bertemu Vassily Ivanchuk dari Ukraina. Kedua pemain, yang saat ini menemapti peringkat 3 dan 1 dunia, terlihat sama-sama segan melakukan penyerangan ofensif. Namun Morozevich berhasil mengalahkan Ivanchuk di babak akhir. (NYT/SM)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.